Buku, Esai, Pelatihan Menulis, Tips Menulis

Mengedit Buku

3997687488_9ce11d6729_o

Selain tahu cara menulis buku, seorang penulis juga disarankan tahu cara mengedit buku. Tentu saja agar tulisannya bisa enak dibaca pada saat disajikan kepada khalayak pembaca. Hal ini mutlak dilakukan manakala Anda tidak menggunakan jasa editor.

Boleh jadi naskah Anda ditolak penerbit atau media massa bukan karena gagasannya, tetapi soal-soal teknis, seperti typo (kesalahan huruf), kalimatnya rancu, dan antar-paragrafnya tidak sinkron. Memang itu hal-hal sepele, tapi bisa menentukan penilaian seorang redaktur; diterima atau tidaknya naskah tersebut.

Pada saat saya menjadi editor in house di penerbit Bentang Pustaka, saya kerap kali membaca banyak naskah untuk di-review, sebelum kemudian dibawa ke rapat redaksi, untuk dibahas lebih lanjut: diterima atau ditolak. Pada umumnya, naskah-naskah tersebut acak-acakan, baik dari segi penulisan maupun kontennya.  Kesalahan huruf, kekeliruan penggunaan titik-koma, dan kejanggalan kalimat, kerap kali saya temukan di semua naskah. Kalau sedikit sih masih bisa ditolerir, nah ini hampir tiap halaman ada kesalahannya. “Penulisnya saja tidak mau memperhatikan naskahnya, jadi jangan harap aku juga mau memperhatikannya!” tukas aku, menggerundel sendiri.

hire-an-editor-625x454

Oleh karena itu, saran saya, setelah Anda menyelesaikan sebuah tulisan, silakan edit terlebih dahulu. Jangan langsung dikirim ke media yang hendak Anda tuju. Minimal Anda mengedit bagian lapis luar, seperti mencari kesalahan huruf dari kata tertentu, kalimatnya tidak lengkap, dan seterusnya. Syukur-syukur bisa mencapai taraf memperbagus diksi dan kalimat-kalimatnya.

Di bagian lapis luar ini, kekeliruan yang kerap saya dapatkan di naskah-naskah yang saya review adalah penggunaan kata depan (preposisi) yang menunjukkan tempat atau posisi, salah satunya “di”. Faktanya masih banyak yang tidak bisa membedakan “di” sebagai kata kerja pasif dan “di” sebagai kata depan. “Di jual”, “Diatas”, “Di Simpan”, “Dibawah”, “Di pandang”, adalah beberapa contoh penulisan keliru yang kerap saya temukan.

Setelah lapis luar, Anda bisa lanjut dengan mengedit bagian lapis dalam, yaitu soal konten, gagasan, ide, yang Anda tawarkan di naskah tersebut. Apakah sudah kuat datanya? Apakah ada yang harus ditambah atau dikurangi materinya? Dan seterusnya.

editing

Jika Anda tidak mau belajar mengedit atau mungkin sudah bisa tapi malas mengeditnya, berarti Anda membutuhkan jasa seorang editor profesional, salah satunya saya sendiri. Silakan kontak saya di HP/WA 085729636582 atau email iqbal.dawami@gmail.com.

Terima kasih

M. Iqbal Dawami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *