Feature, Travelogue

Mamasa: IGI, Kopi, dan Literasi

IMG_20160806_162405

Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Jalanan mulai menanjak. Hawa sejuk pegunungan sudah mulai terasa. Kabut mulai turun. Kota Polewali yang telah kami lewati terlihat bercahaya, mengingatkan saya akan kota Bogor saat dilihat dari Puncak pada malam hari. Itulah gambaran saat kami memasuki perbatasan Polewali dan Mamasa. Sebelumnya yang kami rasakan adalah hembusan angin laut, mulai dari Makassar hingga Polewali.

Di samping menanjak dan berkelok-kelok, jalanan menuju Mamasa juga rusak parah. Tebing yang curam dan tanah longsor seakan hal yang biasa. Hal itu terlihat banyaknya tanah longsor yang kerap saya temukan namun dibiarkan begitu saja. Ditambah dengan pengendara motor maupun mobil yang “was-wes” begitu saja, sebagai tanda mereka sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.

Pukul 11 malam kami sampai di Mamasa, tepatnya di lokasi diselenggarakannya acara. Penginapan dan tempat acara menjadi satu komplek. Setelah melihat tempat acaranya, kami langsung menuju penginapan. Badanku sudah letih, ingin segera merebahkannya. Perjalanan dari Makassar menuju Mamasa benar-benar melelahkan. Saya tidak menyangka sejauh ini. Tadinya saya pikir paling cuma 5 jam perjalanannya, tapi ternyata 10 jam. Dahsyat. Saya hitung ada beberapa kabupaten yang kami lalui, yaitu Maros, Pangkep, Pangkajene, Barru, Pare-Pare, Pinrang, Polewali.

IMG_20160808_054848

Sebelum tidur pikiranku mundur beberapa hari, mengingat peristiwa yang membawaku hingga ke sini. Pak Satria Dharma adalah titik awalnya. Beliau menawarkan saya untuk mengisi ceramah literasi di Mamasa, Kabupaten Sulawesi Barat, sebagai pengganti dirinya. Tentu saja saya senang dengan tawaran itu. Sebuah kesempatan langka yang teramat sayang untuk disia-siakan, batin saya. Tapi, saya tidak langsung mengiyakan, karena sebelumnya ada jadwal khutbah jumat di sebuah masjid yang sebelumnya sudah saya sanggupi. Jadi, saya harus meminta izin terlebih dahulu kepada takmir masjid, siapa tahu saya tidak diberi izin, karena khatib pengganti tidak ada, misalnya.

Tuhan Maha Baik. Saya diberi izin untuk berangkat ke Mamasa oleh takmir masjid. Alhamdulillah. Saya langsung kontak Pak Satria. Beliau turut senang. Kemudian beliau memberikan nomor HP saya kepada panitia. Tak lama panitia mengubungi saya. Setelah itu panitia memesankan tiket pesawat Garuda, trayek Yogyakarta – Makassar, atas nama saya. Beberapa jam kemudian ada sms, yang isinya kode booking pesawat Garuda. Artinya, saya sudah dipesankan tiket pesawat, dengan keberangkatan jumat 5 Agustus 2016. Saya tercenung melihat sms itu, antara percaya dan tidak. Itu artinya saya positif berangkat ke Mamasa. Dan kini saya telah di Mamasa. Thank God.

Esok hari saya akan mempresentasikan perihal literasi di hadapan para guru. Acara ini bertajuk “Guru Pembelajar: Berkarya Melalui Literasi, Bersahabat dengan Teknologi Menuju Pendidikan yang Berkualitas”, yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Mamasa. Saya tidak sendirian, akan ada dua orang lagi yang mengisi materi seminar ini, yaitu Abdul Rizal dari SEAMEO Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) dan Drs. Arizenjaya (pembina IGI kab. Mamasa).

IMG_20160806_075808

Setelah capek ber-flashback, saya pun tertidur di penginapan yang terbuat dari serba kayu itu. Meskipun kayu, tapi tetap saja tidak menghilangkan hawa dingin di dalam kamar. Kutarik selimut hingga menutupi leherku. Pukul 5 subuh saya terbangun. Mukaku seperti disiram air es, saat saya berwudhu. Setelah shalat subuh, saya membuka laptop, menulis sebentar, dan kemudian membuat slide untuk bahan presentasi.  

Terdengar pintu kamar diketuk. Saya bergegas membukanya.

“Maaf, pak, sarapan sudah siap!” Ucap panitia.

“Oh iya, terima kasih.”

Ternyata sudah pukul 8. Cepat sekali waktu berlalu. Saya pun segera mandi dan ganti kostum. Setelah sarapan dan minum kopi, saya langsung menuju aula, tempat dilaksanakannya acara. Wow, sudah ramai rupanya. Saya bersalaman dengan panitia dan para undangan yang duduk di deretan depan. Tak lama acara pun dimulai. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia, yaitu Pak Fredrik. Saya baru tahu, ternyata beliau juga sebagai ketua IGI kab. Mamasa. Jadi, yang menjemput saya kemarin langsung oleh pak ketuanya. Kekaguman saya berlipat-lipat padanya.     

Dalam sambutannya, Pak Fredrik menjelaskan bahwa acara ini didasarkan atas impian sebagian para guru perihal pendidikan dan para pendidik di Mamasa untuk maju. Beliau juga ingin agar pendidikan di Mamasa mendapatkan perhatian dari para pemangku jabatan, seperti Bupati, DPRD, dan Dikbud. Beliau juga menyampaikan semoga para guru men-charge ilmu pengetahuannya, sehingga bertambah kualitas SDM-nya. Dan dengan adanya acara seminar ini, elemen-elemen yang disampaikan tadi tergerak menuju arah yang diimpikan. Setelah itu Pak Fredrik menyampaikan soal ke-IGI-an.   

IMG_20160806_085040

Saya dibuat kagum dengan apa yang disampaikan beliau. Ada semacam cermin dari diri beliau, bahwa anggota IGI di sini mempunyai semangat dan mimpi yang sama untuk maju. Minimnya fasilitas dan letaknya tidak strategis bukan halangan untuk meraih mimpi. Barangkali semangat ini seiring dengan semangatnya pihak pengelola kabupaten ini, yang notabene-nya belum lama “memisahkan diri” alias pemekaran dari kabupaten Polewali Mandar.

Saya menjadi pemateri kedua, setelah Mas Rizal. Jika Mas Rizal menyampaikan soal program-program SEAMOLEC, seperti sekolah terbuka, kelas digital, beasiswa para guru dan siswa, dll., sedang saya menyampaikan soal literasi di sekolah. Saya membuat slide dengan judul “Menghidupkan Literasi di Kalangan Guru”.

Di depan para guru tersebut saya sampaikan bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia. Siswa menjadi pandai membaca, menulis, dan menghitung, berasal dari para guru. Tanpa guru mereka tidak bisa. Di masa dewasa siswa-siswa yang diajar para guru tersebut, menjadi berbagai macam profesi. Ada yang jadi pejabat, pengusaha, ada yang ke luar negeri, dan yang lainnya. Mereka itu semua pondasinya adalah dari para guru waktu di sekolah. Di situlah mengapa seorang guru begitu mulia. 

Namun, kabar buruknya adalah tidak semua guru berkualitas. Salah satu barometer berkualitas atau tidaknya dilihat dari penguasaan literasinya. Saya kemudian menjelaskan apa itu literasi. Setelah itu saya sampaikan pula kondisi literasi di negara tercinta ini, salah satunya hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012, yang mengatakan bahwa Indonesia menempati posisi ke-64 dalam soal literasi.

Inilah yang menjadi keprihatinan pemerintah untuk terus menggalakan literasi di sekolah-sekolah. Saat ini kegiatan literasi sedang didorong dan dikampanyekan oleh kementerian pendidikan. Salah satunya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Anies Baswedan (sebelum di-reshuffle) telah mengeluarkan Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu butir yang diatur dalam Permendikbud itu adalah Gerakan Membaca 15 Menit buku non akademika sebelum jam pelajaran dimulai.

Setelah saya menjelaskan soal literasi, saya kemudian memfokuskan pada soal menulis. Saya memaparkan perihal manfaat menulis. Keterampilan menulis sangatlah dibutuhkan oleh para guru, karena akan berguna untuk kegiatan pembelajaran, tidak hanya untuk pembuatan karya ilmiah (untuk kenaikan jenjang/pangkat), PTK, tetapi juga hal lainnya, seperti untuk surat kabar, jurnal, buletin, buku, maupun untuk yang lainnya. Guru yang terampil menulis juga akan memperoleh tambahan pemasukan secara finansial. Tentu hal ini tidak akan didapatkan bagi guru yang tidak suka menulis.

IMG_2345

Tulisan-tulisan mereka juga akan dibukukan dan diterbitkan. Buku-buku mereka akan menghiasi toko-toko buku. Dengan karya-karya mereka, baik yang tersiar di media massa maupun toko buku, mereka akan dikenal oleh masyarakat. Dan bukan tidak mungkin mereka akan diundang ke pelbagai lembaga pendidikan. Mereka akan diundang ke pelbagai daerah untuk sharing gagasan-gagasan yang ditulisnya, atau pun membagikan ilmu menulisnya kepada para guru lainnya yang seprofesi dengan dirinya.

Untuk lebih meyakinkan saya ceritakan beberapa sampel guru yang punya kemampuan menulis, misalnya Pak Sumardianta (Guru SMA De Britto Yogyakarta) dan Bu Endang Pudji Dwi Rahayu (Guru SMPN I Demak). Saya tunjukkan pula karyanya. Kebetulan saya membawanya. Saya jelaskan bahwa seorang guru di sebuah desa terpencil bukan halangan untuk bisa menulis. Dia bisa menuliskan apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami. Mungkin ada kisah mengharukan, membahagiakan, menyedihkan, bahkan kisah lucu.

Di akhir materi saya sedikit menantang kepada para peserta, bagi yang punya tulisan berbentuk naskah buku, bisa kirim ke email saya. Insya Allah nanti saya bisa bantu mencarikan penerbitnya. Atau bagi yang sedang dan bahkan baru mau menulis, saya siap membimbingnya. Wow, mereka cukup antusias dengan tantangan saya itu. Mereka meminta nomor kontak dan email saya.  

Acara selesai tepat pukul tiga sore. Cukup lumayan lama. Dan sebagian besar peserta bisa bertahan hingga acara selesai. Luar biasa. Ada beberapa memang yang pulang duluan. Mereka sebelumnya izin kepada panitia, karena rumah mereka di pegunungan, khawatir kemalaman di jalan. Dan untuk mencapai rumah, mereka harus jalan kaki beberapa kilo, karena memang kendaraan apapun tidak bisa melewatinya. Allahu akbar.

IMG_2328

Para panitia merasa bersyukur atas kelancaran acara tersebut. Saya pun ikut bersyukur. Ketika saya tanya kepada salah satu panitia, “Berapa  jumlah pesertanya yang hadir?”

“Seratus tujuh puluh sembilan, pak,” jawabnya.

Wow, luar biasa. Mereka sendiri tidak menyangka bisa mencapai angka segitu. Biasanya kalau ada acara semacam itu, paling banyak 50 orang, tambahnya. Di daerah yang medannya pegunungan dan ditambah infrastruktur belum normal, jumlah peserta sebanyak itu, tentu patut diacungi jempol.

Selepas acara, seorang panitia membawakan kopi yang masih panas. Mereka menyebutnya kopi kampung. Rasanya nikmat sekali. Dulu, kata mereka, kopi menjadi penghasilan andalan dari sektor perkebunan Mamasa. Secara rasa tidak kalah dengan kopi Toraja, bahkan konon kopi Toraja sebetulnya diambil dari perkebunan kopi Mamasa. Bisa saja hal itu terjadi, karena memang Mamasa dan Toraja bertetangga (sebelah barat), selain Polewali Mandar (sebelah selatan) dan Mamuju (sebelah utara).  

IMG_20160806_223352

Dari sektor wisata, Mamasa juga punya potensi yang besar. Hanya saja, kata mereka, pemerintah setempat belum menggarapnya secara serius. Kabupaten Mamasa boleh dibilang satu-satunya kota kabupaten yang memiliki udara yang sejuk dan alamnya yang indah, karena di bawah kaki gunung Mambuliling. Artinya, orang kalau ingin ngadem di dalam kota, adanya cuma di Mamasa. Di kota lain tidak akan ditemukan seindah dan sesejuk alam kota Mamasa.

IMG_2341

Satu lagi yang tidak saya lupakan dari obrolan dengan teman-teman IGI kabupaten Mamasa, yaitu perihal kerukunan antar umat beragama. Di Mamasa agama Islam adalah minoritas, yakni hanya 10 persen, sedang 90 persennya adalah Kristen (Katolik maupun Protestan). Tapi jangan salah, Kabupaten Mamasa bulan yang lalu barusan mengadakan MTQ tingkat kabupaten. Semua panitianya adalah kaum Kristiani. Dan bahkan acara-acaranya pun diisi oleh kaum Kristiani juga, seperti seni rebana. Semua turut berpartisipasi tanpa memandang agama maupun status. Bagi saya, ini juga menjadi keunggulan Kabupaten Mamasa yang patut ditiru oleh daerah-daerah lain.    

Setelah shalat magrib, saya berangkat menuju Makassar. Sebelum pamit saya minta diantar ke toko yang menjual kopi Mamasa terlebih dahulu, sebagai oleh-oleh untuk para penikmat kopi di lingkungan rumah saya.  

Di dalam mobil hanyalah terdengar musik yang diputar sang sopir. Di dalam mobil hanya ada tiga orang: saya, Mas Rizal, dan pak sopir. Saya sudah siap dengan perjalanan yang jauh ini. Kami akan tiba pukul lima subuh mencapai Makassar. Saya punya banyak waktu untuk melamun, memikirkan segala sesuatu yang hendak saya pikirkan. Rintik hujan menerpa kaca jendela mobil, menghalangi pandanganku, yang sebetulnya pikiranku tidak sedang di situ. Mataku mulai lelah. Saya merebahkan badan. Dan tak lama kemudian saya tertidur.  

Selamat tinggal Mamasa.

M. Iqbal Dawami

 

3 Comments

  1. Kak iq…haturnuhun ya….di jogja lg hujan pas baca ini…tapi saya serasa ikut ngerasain kopi hitamnya meski gak berani minum beneran karena takut gk bisa tidur lg sehari semalam kayak beberapa hari yg lalu. hehehe…love to read this…

    lain waktu pengen dimentorin soal menulis yg baik..

    1. Sama-sama, Bu Mila. Saya malah sebelum tidur minum kopi dulu, hehe…
      Makasih ya udah berkenan membacanya. Hayukkk nulis Bu Mila 😀
      Salam.

  2. Kami panitia Seminar IGI Mamasa menyampaikan Terima Kasih yang tak terhingga atas kehadiran bapak memberi Motivasi kepada kami Guru-guru di daerah terpencil Mamasa….salam Literasi

    1. Sama-sama, Pak Andarias. Terima kasih juga atas sambutan hangat dan keramahannya. Sukses selalu untuk IGI Mamasa. Salam literasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *