Travelogue

In A Sentimental Mood: Jungle Trekking di Yogyakarta

4

Tak bisa dihitung berapa kenangan yang membekas pada saat saya tinggal di Yogyakarta. Ada banyak sekali. Tapi saat ini yang paling membekas adalah soal saya trekking dengan kawan-kawan KHJTC (Kere Hore Jungle Trekker Community). Yang pertama mengajak saya untuk trekking adalah Pak Sumardianta, alias Pak Guru. Setiap kali mengingat trekking, hatiku menjadi gerimis-melankolis (baper, istilah jaman kiwari). Seolah tak percaya kalau dulu saya punya kebiasaan yang indah ini.

Sebelum bekerja di Bentang Pustaka, satu minggu kami bisa melakukan dua kali, kadang pagi maupun sore hari. Hal yang paling membekas adalah sore hari. Saya berangkat setelah shalat ashar. Saya naik bis Trans Jogja di seberang UIN, kemudian turun di bandara. Di sana sudah ada Pak Guru yang hendak menjemputku. Kadang Saya berangkat sebelum ashar, dan shalatnya di masjid parkiran bandara. Hal ini agar waktu menjadi efisien, sehingga Pak Guru tidak menungguku.

2

Kemudian kami meluncur menuju lokasi trekking. Ada banyak lokasi yang biasa kami eksplor, tapi secara keseluruhan semua lokasinya berada di perbukitan perbatasan Bantul – Perambanan, dan Bantul – Gunung Kidul. Dalam perjalanannya saja saya begitu merasakan atmosfir yang luar biasa, apalagi pas lokasi trekking. Kulihat dari kejauhan bukit-bukit yang hijau. ┬áSetelah sampai di kaki bukit, kulihat persawahan yang indahnya bukan main.

Olahraga ini boleh dikata tidak populer ketimbang olahraga lain yang biasa digeluti orang-orang. Saya melakukannya bersama teman-teman, yang jumlahnya paling banyak enam orang. Misalnya, Pak Guru, Mas Toni dan Om Jit (ketiganya hingga kini masih aktif). Kadang saya melakukannya cuma dua orang, yakni dengan Pak Guru, di sore hari di lain hari minggu, karena yang lain masih bekerja. Ada kenikmatan tersendiri pada saat olahraga jungle trekking ini yang tidak saya dapatkan dari olahraga lainnya.

1
Lokasi jungle trekking kami adalah daerah perbukitan yang ada di Yogyakarta, di antaranya perbukitan Prambanan, Piyungan, dan Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Jarak tempuh jungle trekking bervariasa, tergantung jauh-dekatnya dari kota Yogyakarta. Tapi paling jauh hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Jalanan yang kadang menanjak dan menurun membuat kaki kami terlatih.

Pada saat perjalanan menuju puncak bukit seringkali kami menemukan hal-hal yang menakjubkan, entah itu panorama yang indah, bertemu dengan penduduk desa yang mampu merelatifkan hidupnya, maupun melewati ladang-tanaman, seperti tomat, cabe, dan kacang, yang menggoda untuk dipetik. Dan pada saat sampai di puncak bukit, kami bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Basah kuyup keringat sudah tidak kami pedulikan.

3

Pada saat mencapai puncak, sembari menyaksikan pemandangan yang indah, saya sering merasakan rasa syukur atas limpahan karunia Tuhan yang diberikan pada saya. Kesehatan jasmani dan rohani adalah suatu capaian anugerah Tuhan yang bisa dirasakan oleh semua orang. Namun, sering kali saya tak mampu menjaganya lantaran pelbagai dalih. Di puncak itu kami membuka perbekalan, yakni jajanan pasar yang kami beli sewaktu di perjalanan. Sembari menyeruput teh dan makan naga sari, kami mengobrol ngalor-ngidul, hal berat maupun remeh temeh. Kebersamaan dan keakraban benar-benar kami rasakan.

8
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari jungle trekking, misalnya dalam melihat kehidupan saya harus mampu mempunyai banyak perspektif. Pelajaran itu saya dapatkan pada saat kami melewati jalan-jalan yang baru, yang jarang dilalui penduduk setempat. Menyusuri jalan-jalan baru tersebut membuat kami tak jarang harus merangkak untuk menaikinya. Otak dan otot benar-benar diberdayakan pada saat itu.

9
Kini, setelah saya hijrah ke Pati nyaris tidak pernah jungle trekking lagi, kecuali sekali, yakni pas ke Gunung Muria via Gembong, bersama teman-teman Tadarus Buku. Jungle Trekking di Perbukitan Yogyakarta adalah salah satu momen terindah dalam hidupku.[]

M. Iqbal Dawami

6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *