Biografi, Feature

Imam Bukhari yang Mengaku Tidak Tahu

 

fsdfsd

Di tulisan ini, Lalu Abdul Fatah mengutip omongan Paul Arden yang bunyinya “Ketidaktahuanlah yang menjadikan hidup begitu kaya”. Terus dia juga mengutip kata-kata Jostein Gaarder (tapi kata Eric Weiner sih itu kata-kata Socrates) yang katanya orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu adalah orang yang paling bijaksana.

Apa kira-kira makna dari kedua quote yang dikutip Mas Fatah tersebut? Kalau kita memahami secara letterlijk kesannya tampak paradoks. Bagaimana bisa ketidaktahuan menjadikan hidup kita kaya pengetahuan? Bagaimana akan menjadi bijak kalau kita tidak tahu apa-apa? Tapi bukan begitu memahaminya.

Mas Fatah sendiri memberi penjelasannya, “Ketika menyadari sepenuh hati bahwa kita sesungguhnya tidak tahu, maka di situlah proses belajar itu terjadi. Kita tidak lekas merasa puas. Kita akan terus mencari tahu. Kita akan punya energi dahsyat untuk terus belajar,” ujarnya.

Saya sepakat. Saya sering mengalami seperti itu. Ketidaktahuan akan sesuatu bikin saya ingin tahu sesuatu itu. Ada yang kemudian saya dalami, tapi ada juga yang cuma sekadar ingin tahu. Yang jelas, dengan adanya ketidaktahuan membikin kita ingin tahu. Ditindaklanjuti atau tidak kembali kepada orangnya masing-masing.

Soal kata-kata Jostein Gaarder di atas, saya jadi ingat “tipe orang” menurut Imam Al-Ghazali. Salah satunya adalah “Orang yang tidak tahu, tapi dia tahu, kalau dirinya tidak tahu”. Orang jenis seperti itu menurut Sang Imam adalah orang yang bijaksana. Dia akan mengakui ketidaktahuannya, sehingga tidak perlu sok tahu dan ikut-ikutan. Yang dilakukannya justru mencari tahu terlebih dahulu sampai betul-betul dia tahu.

Merasa ketidaktahuan juga membuat kita jauh dari sifat sombong. Sebaliknya, “Orang yang merasa paling tahu, sesungguhnya ia telah ditawan oleh kesombongan,” ujar Mas Fatah.

Saya jadi ingat kisah Imam Bukhari yang diceritakan guru Hadis saya waktu di pesantren, namanya Pak Abdul Fatah (namanya sama dengan Mas Fatah, hehe).

Suatu ketika Imam Bukhari datang ke Bagdad. Ulama di sana mendatangi beliau, maksudnya mau menguji kekuatan hafalan Sang Imam. Maka dibuatlah sebuah forum dengan Sang Imam di depannya. Ada 10 ulama ditugaskan sebagai penguji. Dia kemudian dicecar soal hadis ini dan hadis itu oleh kesepuluh ulama itu.

maxresdefault

Setiap kali mereka bertanya, Sang Imam cuma menjawab, “Saya gak tahu.” Jawabannya begitu terus. Akhirnya bubarlah forum itu. Ketika sudah bubar, barulah Sang Imam mengjawab pertanyaan mereka masing-masing. “Hadis yang ente ucapin keliru, yang bener, bla-bla-bla…” hingga semua pertanyaan berhasil dia jawab. Sang Imam menjawab tidak hanya isi (matan) hadisnya, tapi juga jalur atau rangkaian yang meriwayatkannya (alias sanad). Ulama yang ada di situ geleng-geleng berdecak kagum. Mereka mengakui kehebatan Imam Bukhari.

Imam Bukhari sengaja menejawab “tidak tahu” di forum itu dan menjawab dengan jujur setelah acara bubar, karena dia takut sombong. Baginya ilmu itu bukan untuh dipamerkan, tapi untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan umat.

295735f9b0acc04d4615ae3c700ec4ce

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *