Esai, Feature

Hope

1794551_263544337140708_1945945682_n

Ronny Agustinus, owner penerbit Marjin Kiri, menulis status di akun Facebook-nya yang berisi kisah pengalamannya di Frankfurt, dalam rangka menghadiri Frankfurt Book Fair 2014. Di sana ia bertemu dengan seorang lelaki dari Suriah yang bernama Marwan Adwan. Lelaki itu adalah owner Mamdouh Adwan Publishing House. Kita tahu bagaimana kondisi Suriah saat ini. Rentetan peperangan belum juga berhenti. Ronny mendengar kisah Adwan itu sungguh heroik. Ronny mengatakan bahwa kesulitan yang dihadapi intelektual penerbitan di Indonesia sungguh tidak ada apa-apanya dengan yang dialami Adwan di Suriah. Begini kisahnya.

Kantor Adwan di Damaskus telah rata dengan tanah. Tapi Adwan tidak meratapi keadaan itu. Ia tetap menjalankan penerbitannya yang beralamat di Dubai. Kondisi Suriah yang seperti itu sungguh sangat sulit untuk menerbitkan buku-bukunya, terlebih menjualnya. Bagaimana mungkin masyarakat Suriah akan membaca kalau keadaan perang masih berkecamuk? Apakah bisa anak-anak sekolah membaca dengan tenang di tengah teror yang terus menghantui setiap saat? Lantas, buat apa susah-susah menerbitkan buku segala? Pertanyaan semacam itu sering Adwan dapatkan.

Tapi apa jawaban Adwan? Jawabannya membuat mas Ronny merinding. Saya akan cantumkan sedikit dari mas Ronny agar pembaca bisa merasakannya.

““Harapan,” katanya. Hanya dengan membaca, harapan akan terus tumbuh dalam diri anak-anak muda Suriah bahwa ada dunia lain yang lebih baik yang bisa dicapai, bahwa hidup bukan cuma kekerasan dan pertumpahan darah. Masalah dalam diri kaum ekstremis dari kubu manapun, katanya, adalah mereka tidak mendorong orang untuk membaca dan membuka pikiran, tapi menutupnya dengan dogma. Sungguh mengerikan melihat anak kecil disodori senjata untuk berperang dan bukan buku untuk dibaca.””

Sebuah jawaban yang menggetarkan. Pada saat mereka berdua berbincang-bincang, Adwan bercerita bahwa dirinya sebenarnya seorang programer yang hidupnya sudah nyaman, tapi melihat keadaan anak-anak muda Suriah yang menyedihkan lantaran perang yang identik dengan kekerasan, mendorong dirinya untuk menyelamatkan generasi penerus Suriah lewat buku-buku yang diterbitkannya. Mengapa dia menempuh dengan sebuah buku? Batin saya penasaran.

Setelah saya melihat-lihat dinding Facebook-nya, di sana saya mendapatkan jawaban. Dia membuat kata-kata mutiara yang disertai dengan ilustrasi seorang anak kecil sedang menggoes sepeda dengan setumpuk buku di keranjang belakang sepedanya. Di atas buku itu ada sebuah apel merah. Begini kata-kata mutiaranya:

لا يمكنك شراء السعادة،ولكن يمكنك شراء الكتاب

السعادة والكتاب نفس الشيء تقريبا

Engkau tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi engkau bisa membeli sebuah buku

Kebahagiaan dan buku adalah jiwa yang saling berdekatan

Kisah di atas begitu berkesan bagi saya, semoga juga bagi pembaca. Salah satu yang membekas dari kisah Adwan di atas adalah perihal hope, harapan. Ya, harapan itulah yang membuat dia bertahan untuk menjalankan penerbitannya. Harapan itu menumbuhkan optimisme. Harapan memancarkan motivasi untuk melakukan sesuatu dengan sekuat tenaga, walau keadaan sepertinya tidak memungkinkan untuk diraih. Itulah the power of hope.

Dalam Islam, mempunyai harapan sangat dianjurkan bahkan wajib. Hal ini disebabkan ada kaitannya dengan iman. Seorang muslim yang mempunyai harapan berarti imannya sangat tebal, dan begitu juga sebaliknya, karena tanpa harapan berarti ia tergolong putus asa. Sedang putus asa dilarang dalam Islam. Mereka dicap sebagai orang kafir dan orang yang sesat. Firman Allah: 

ولا تيأسوا من روح الله إنه لاييأس من روح الله إلا القوم الكافرون

“Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan mereka termasuk orang-orang yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

ومن يقنط من رحمة ربه إلا الضالون

“Dan tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat” (QS. Al-Hijr: 56).

Orang yang memiliki harapan sejatinya orang yang memiliki visi. Seperti halnya Adwan, harapannya membawa visi bahwa kelak generasi Suriah mendatang akan lebih baik apabila budaya baca-tulis pada saat ini terus ditanamkan, meskipun perang sedang berkecamuk. Kondisi saat ini jangan sampai menghentikan tradisi literasi di masyarakat Suriah. Dia yakin bahwa keadaan kacau-balau ini tidak akan selamanya.

Apabila kita tengok ke belakang, Suriah yang dulunya termasuk negeri Syam, adalah pusat peradaban pada zaman kekhalifaham Bani Umayah. Salah satu yang menonjol pada masa itu adalah tradisi literasinya. Perpustakaan-perpustakaan dibangun dengan megah untuk dijadikan pusat studi dan riset. Maka, tidak heran banyak bermunculan para ulama hebat di sini. Mereka tidak hanya dakwah bil amal (perbuatan) dan bil lisan (ucapan), tetapi juga bil qalam (pena).

Mereka menorehkan karya-karya besarnya di sini. Kebanyakan di antara mereka bermukim di Damaskus. Sebut saja misalnya Syikhul Islam Ibn Taimiyah, Ibn Qayim al Jauziyah, Imam al Hafizh Ibn Katsir, dan lain-lain.

Melihat Suriah masa lalu seperti itu, apa yang dilakukan Adwan saat ini sejatinya meneruskan tradisi ulama-ulama terdahulu dalam aktivitas literasi bagi masyarakat Suriah. Bukan tidak mungkin kelak di masa yang akan datang peradaban emas Suriah akan terulang kembali. Begitulah Adwan telah memberikan teladan bagi kita soal harapan.

Dalam film The Shawshank Redemption, Andy Dufresne menulis surat kepada kawannya yang ada di penjara,”Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.” 

M. Iqbal Dawami 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *